Selasa, 10 Oktober 2017

Jadilah Wanita Paling Bahagia di Dunia


Di dunia ini ada orang kaya orang miskin, yang membedakan adalah jumlah materi yang dimiliki (yang saya maksud kaya-miskin di sini bukan secara mental lho ya :-) ). Namun ternyata ada hal yang diberikan oleh Allah baik itu miskin atau kaya, yang punya pendidikan tinggi atau tidak, yang tinggal di kota atau di desa, yaitu "kesusahan" dan "kebahagiaan". Dua hal itu bisa dirasakan oleh orang kaya atau miskin. Orang yang punya kekayaan pun bisa merasakan kesusahan berapapun berlimpahnya kekayaan yang dimilikinya, sebaliknya orang miskin pun juga bisa merasakan kebahagiaan meski di mata orang-orang ia tak memiliki materi yang berlimpah.

Jadilah Wanita Paling Bahagia di Dunia
Photo by Denys Nevozhai on Unsplash

Postingan ini saya tulis untuk introspeksi diri saya, juga siapapun yang mampir ke blog ini dan berkenan membacanya. Seperti yang kita tahu hidup di dunia pasti banyak mengalami kejadian yang membuat kita meneteskan air mata kesedihan ataupun kebahagian, dari itu semua...

Kesedihan atau kebahagian itu adalah sebuah sikap, hasil dari pilihan kita dalam menghadapi suatu kejadian, atau singkatnya " sikap kitalah yang menentukan" kita mau "bahagia" atau "bersedih".

Jadi mau pilih mana? pasti Anda pilih bahagia, jika setuju dengan saya dan Anda seorang wanita coba ucapin dengan sepenuh hati "Ya Allah... saya ingin jadi wanita paling bahagia di dunia ini".

Kenapa sih saya menulis tentang menjadi bahagia? hehe...gara-garanya habis membaca kembali buku La Tahzan karangan Dr. Aidh Al-Qarni. Buku terjemahan yang ditulis oleh seorang muslim, tapi menurut saya meski ditulis berdasarkan keyakinan yang dianut penulis, buku ini layak banget dibaca oleh siapapun yang sedang membutuhkan asupan nutrisi motivasi. Jika Anda penggemar buku-buku Chikcen Soup Series , saya rasa buku ini layak banget untuk menambah koleksi buku Anda. Buku milik saya masih terbitan lama, yang terbaru covernya sudah ganti.


Ceritanya abis saya berasa dingetin jika apapun yang kita pilih, sikap positif atau negatif itu kita seperti menanam di bentangan semesta, dan suatu saat kita akan memanennya. Jika yang kita tanam itu negatif maka yang kita panen adalah negatif, begitu pula jika kita hal positif yang kita tanam maka inshaallah hal positif pula yang akan kita dapat.

Mengutip apa yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni:
Ya... Untuk senyummu yang cantik, yang mengirimkan cinta, dan mengutus kasih sayang bagi orang lain.
Ya... Untuk kata-katamu yang baik, yang membangun persahabatan, dan menghapuskan rasa benci.
Ya... Untuk sedekahmu yang dikabulkan, yang membahagiakan orang miskin, menyenangkan orang-orang kafir, dan mengenyangkan orang-orang lapar.
Ya... Untuk kesediaanmu duduk bersamaa-Qur'an seraya membaca, merenungi, dan mengamalkannya seraya bertaubat dan istighfar.

Akhir kata... jadilah kita orang-orang yang senantiasa bersyukur dan berbahagia di alam semesta ini. Semoga Allah mengganti badai dengan ketenangan;kegelapan dengan cahaya-Nya; dan menjadikanmu Wanita-wanita paling berbahagia di dunia.

Salam sayang :-)

Lutfiyah Imran

banner
Previous Post
Next Post

0 komentar: