Senin, 04 September 2017

Tepatkah mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini ?

Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat? Sudah biasa banget ya, jika anak-anak asyik bermain dengan gadget semacam ipad atau android tablet. Jika jaman saya dulu pas di SMA yang memiliki komputer satu sekolahan itu paling beberapa anak, maka tak mengherankan jika sekolah-sekolah sekarang mengizinkan bagi siswanya untuk membawa laptop saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Namun tahukah Anda, di saat kita menganggap fenomena ini adalah hal biasa, ternyata para petinggi Silicon Valley, tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan teknologi dunia, justru menyekolahkan anak mereka di sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali yaitu di Waldorf School of The Peninsula. 

Sekolah Waldorf
Sekolah Waldorf : via chicagowaldorf.org

Jika sebagian besar sekolah sedang berlomba-lomba untuk menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah digital dengan memasukkan pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok komputer dalam jumlah besar. Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya, sebisa mungkin menjauhkan anak-anak dari komputer dan menekankan pendidikan kepada aktivitas fisik dan belajar secara kreatif. Alat-alat belajar yang digunakan para siswa adalah pena, kertas, bahkan bisa menggunakan alat rajut dan lumpur. Kelas tempat belajar mereka justru dihias warna-warni dengan kapur dan gambar-gambar aneka warna.

Sekolah Waldorf : via chicagowaldorf.org
Jangan harap Anda akan menemukan satu layar komputer pun.Ternyata di sekolah ini para pendidik dan orangtuanya mempercayai bahwa pendidikan dan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dicampuradukkan. Menurut para pendidik di sekolah Waldorf, keberadaan komputer justru dapat menghambat pemikiran kreativitas anak, dan bisa mengurangi interaksi antarmanusia secara langsung. Kalau ini sih bukan hanya berlaku ada anak malahan menurut saya, seringkali kita mengabaikan orang di sekitar karena sudah asyik dengan gadget masing-masing (mungkin saya saja kali ya, mudah-mudahan anda tidak seperti itu hehe..)

Tentunya tetep ada pro dan kontra mengenai perlu enggaknya komputer itu dikenalkan sejak dini, bahkan ada beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa anjuran untuk melengkapi ruang kelas dengan komputer adalah tidaklah beralasan karena belum ada studi yang menyatakan bahwa teknologi membuat anak-anak di sekolah dasar lebih cepat mengalami perkembangan kreativitas. Namun di lain pihak, apakah belajar merajut dan belajar pecahan melalui potongan kue atau buah adalah alternatif yang lebih baik, juga belum dipastikan secara ilmiah.

Sekolah Waldorf : via chicagowaldorf.org
Menurut artikel yang saya baca tersebut, setidaknya sekolah Waldorf mampu membuktikan bahwa 94 persen lulusan sekolah mereka banyak yang sukses di perguruan tinggi terkenal, seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar. Alumni tersebut adalah yang lulus antara tahun 1994 hingga 2004.

Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

Di antara pro dan kontra sistem pendidikan yang diterapkan oleh sekolah Waldorf, sekolah ini justru telah berjumlah 40 buah di California dan terus memiliki jumlah siswa yang signifikan setiap tahun. Pengakuan dari seorang siswa, Finn Heilig (10), yang ayahnya bekerja di Google, menyatakan bahwa ia lebih nyaman menulis dengan tangan daripada dengan komputer. Heilig ingin melihat perkembangan tulisan tangannya dari tahun ke tahun.

Menurut Sekolah Waldorf , menghilangkan teknologi pada sekolah dasar bukan berarti menutup akses anak untuk bisa menguasai teknologi. Pada usia tertentu, anak akan bisa mempelajari teknologi dengan sendirinya tanpa harus kehilangan kreativitas mereka di masa kanak-kanak. Bahkan untuk anak-anak yang orangtuanya bekerja di perusahaan-perusahaan Silicon Valley, komputer tentu sudah diajarkan orangtua di rumah. Sebuah kutipan yang disampaikan oleh petinggi Google yaitu Alan Eagle

"Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.”

Dulu saya khawatir anak saya belum bisa menggunakan laptop, sementara sepupu atau teman yang usianya lebih muda dari dia sudah bisa mengoperasikannya, namun setelah membaca artikel tentang Sekolah Waldrof ini berkurang kekhawatiran saya. Dan seprtinya perlu mempertimbangkan kembali kapan saatnya mengenalkan gadget dan internet. Bagaimana menurut Anda ? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat? Pilihan ada di tangan Anda.

Sumber : http://www.hipwee.com/motivasi/saat-anak-atau-adikmu-main-ipad-anak-anak-bos-google-dan-apple-justru-main-tanah-di-sekolah/
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar: